School Or Life Skill ???
School Or Life Skill ??
Maksud dari artikel ini adalah tentang Lebih Urgent mana sekolah atau Menekuni sesuatu yang bisa menjadi Life skill, karena berdasarkan fakta sekarang, banyak orang berpendidikan tinggi yang pengangguran ,Hidup berantakan dan lain lain.
Oke langsung aja kita bahas tentang apa itu LIFE SKILL
karena kalo sekolah mungkin kita sendiri udah tau apa dari wujud sekolah dan pola pendidikan yang umum di indonesia itu.
Hardskill itu pengetahuan umum, yang biasanya kita pelajari
melalui sekolah, keilmuan.
Dalam sistem pendidikan kita, dikenal istilah Hardskill,
Softskill, dan Lifeskill.
Kalau softskill itu lebih personal, seperti kemampuan
komunikasi, pengelolaan emosi, kreatifitas, inisiatif dll.
Sedangkan Lifeskill, adalah sebuah skill yang langsung
berhubungan dengan produktifitas dan finansial.
Jika melihat ke-3 jenis skill diatas, kita pasti setuju jika
memang sistem sekolah di Indonesia (terutama SD-SMP-SMA) masih memprioritaskan
Hardskill. Sedangkan pendidikan karakter / softskill hanya mendapatkan porsi
yang sedikit, padahal attitude itu sangat penting. Apalagi lifeskill, yang bisa
membuat anak didik bisa menolong diri sendiri, nyaris tidak ada.! Dengan itu
kita mengerti bahwa anak lulusan sekolah biasanya tidak siap karena memiliki
gap dengan realitas yang ada.
Begitu juga dengan kita yang sudah dewasa, sesungguhnya
yang paling dibutuhkan adalah Softskill (sikap) dan Lifeskill (keterampilan
khusus). 2 skill ini yang bisa mengantar kita pada kemandirian dan kesuksesan.
Sedangkan hardskill / pengetahuan keilmuan (jika membutuhkan pengakuan / ijazah
/ gelar) bisa di kejar kemudian jika ingin mencapai tahap selanjutnya
Pengertian Pendidikan Life Skill
Menurut Para Ahli
Pengertian life skill atau biasa disebut sebagai kecakapan
hidup jika di lihat dari segi bahasa berasal dari dua kata yaitu Life dan
skill. Life berarti hidup, sedangkan skill adalah kecakapan, kepandaian,
ketrampilan. Sehingga life skill secara bahasa dapat diartiakan sebagai
kecakapan, kepandaian, keterampilan hidup. Umumnya dalam penggunaan sehari-hari
orang menyebut life skill dengan istilah kecakapan hidup.
Menurur Listyono, kecakapan hidup (life skill) yaitu kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problematika kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif, mencari serta menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan.
Menurur Listyono, kecakapan hidup (life skill) yaitu kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problematika kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif, mencari serta menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan.
Menurut Rais Saembodo dalam Wira Kurnia S (2006) mengatakan
kecakapan, keterampilan (skill) menunjukkan suatu kecakapan atau keterampilan
ini diperoleh melalui latihan atau pengalaman. Sasaran utama proses
pengembangan sumber daya manusia dapat diarahkan pada usahausaha membina
knowledge skillability seoptimal mungkin.
Menurut IOWA State University (2003), life skill diartikan
sebagai berikut, a skill is alearned ability to do something well. Kecakapan
tidak hanya diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu, lebih daripada
itu, kecakapan dimaknai sebagai kemampuan belajar untuk melakukan sesuatu
secara lebih baik. Jadi mampu melakukan sesuatu saja belum cukup untuk
dikatakan sebagai cakap, melainkan kemampuan untuk melakukan sesuatu tersebut
harus ditunjukan secara lebih baik dan diperoleh melalui suatu aktivitas
belajar.
Sedangkan life skill oleh IOWA State University (2003),
diartikan sebagai, are abilities individuals can lear that will help them to be
successful in living a produktive and satisfying life. Kecakapan hidup
dimengerti sebagai kemampuan individual untuk dapat belajar sehingga seseorang
memperoleh kesuksesan dalam hidupnya, produktif dan mampu memperoleh kepuasan
hidup. Indikator seseorang telah memperoleh life skill dengan demikian dapat
dilihat dari sejauhmana ia mampu eksis dalam kehidupnya di tengah-tengah
masyarakat. Apabila seseorang mampu produktif dan membuat berbagai kesuksesan,
maka dapat dikatakan orang tersebut memiliki life skill yang baik.
Menurut Anwar (2004) life skill adalah pendidikan yang dapat
memberikan bekal ketrampilan yang praktis terpakai, terkait dengan kebutuhan
pasar kerja, peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang ada di
masyarakat.
Broling (1989) mengemukakan bahwa life skill adalah
interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh
seseorang, sehingga mereka dapat hidup mandiri.
Kent Davis (2000) mengemukakan bahwa kecakapan hidup (life
skill) “manual pribadi” bagi tubuh seseorang. Kecakapan ini membantu peserta
didik belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerja
sama dengan secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis,
melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan didalam kehidupannya.
Menurut WHO (1997) life skill yaitu berupa berbagai
keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berprilaku positif,
yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan
dalam hidupnya seharihari secara efektif.
Secara esensial, life skill didefinisikan sebagai semacam
petunjuk praktis yang membantu anak-anak untuk belajar bagaimana merawat tubuh,
tumbuh untuk menjadi seorang individu, bekerja sama dengan orang lain, membuat
keputusan-keputusan yang logis, melindungi diri sendiri untuk mencapai tujuan
dalam hidupnya. Sehingga dalam hal ini untuk menjadi tolak ukur life skill pada
diri seseorang adalah terletak pada kemampuannya untuk meraih tujuan hidupnya.
Life skill memotivasi anak-anak dengan cara membantunya
untuk memahami diri dan potensinya sendiri dalam kehidupannya, sehingga mereka
mampu untuk menyusun tujuan-tujuan hidup dan melakukan proses problem solving
apabila dihadapkan persoalan-persoalan hidup.
Menurut Kemendiknas
Istilah life skill menurut Depdiknas tidak semata-mata
diartikan memiliki keterampilan tertentu (vocational job) saja, namun ia harus
memiliki kemampuan dasar pendukungnya secara fungsional seperti mambaca,
menghitung, merumuskan, dan memecahkan masalah, mengelolah sumber daya, bekerja
dalam tim, terus belajar di tempat kerja mempergunakan teknologi.
Sedangkan pendidikan kecakapan hidup atau life skill menurut
tim broad based education Depdiknas (2002) adalah kecakapan yang dimiliki oleh
seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara
wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif dapat
mencari serta menemukan solusi untuk mengatasinya.
Apa yang diungkapkan oleh Depdiknas tentu masih relevan
dengan arahan pendidikan nasional saat ini. Hanya saja ada penguatan tertentu
sesuai dengan pengembangan pendidikan sekaligus kebutuhan zaman yang semakin
kompleks era ini.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian life
skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan
kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk
mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill bagi peserta
didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan
kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga masyarakat,
maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa yang menjadi
tujuan hidupnya.
Jenis-Jenis Life Skill
Broling (1989) dalam pedoman penyelenggaraan program
kecakapan hidup pendidikan non formal mengelompokkan life skill menjadi tiga
kelompok, yaitu: (1) Kecakapan hidup sehari-hari (daily living skill), antara
lain meliputi ; pengelolahan rumah pribadi, kesadaran kesehatan, kesadaran
keamanan, pengelolahan makanan-gizi, pengelolahan pakaian, kesadaran pribadi
warga negara, pengelolahan waktu luang, rekreasi, dan kesadaran lingkungan. (2)
kecakapan hidup sosial/pribadi (personal /
social skill), antara lain meliputi ; kesadaran diri (minat, bakat, sikap, kecakapan), percaya diri, komunikasi dengan orang lain, tenggang rasa dan kepedulian pada sesama, hubungan antar personal, pemahaman masalah, menemukan dan mengembangkan kebiasaan fositif, kemandirian dan kepemimpinan. (3) kecakapan hidup bekerja (vocational skill), meliputi: kecakapan memilih pekerjaan, perencanaan kerja, persiapan keterampilan kerja, latihan keterampilan, pengusahaan kompetensi, menjalankan suatu profesi, kesadaran untuk menguasai berbagai keterampilan, kemampuan menguasai dan menerapkan teknologi, merancang dan melaksanakan proses pekerjaan, dan menghasilkan produk barang dan jasa.
social skill), antara lain meliputi ; kesadaran diri (minat, bakat, sikap, kecakapan), percaya diri, komunikasi dengan orang lain, tenggang rasa dan kepedulian pada sesama, hubungan antar personal, pemahaman masalah, menemukan dan mengembangkan kebiasaan fositif, kemandirian dan kepemimpinan. (3) kecakapan hidup bekerja (vocational skill), meliputi: kecakapan memilih pekerjaan, perencanaan kerja, persiapan keterampilan kerja, latihan keterampilan, pengusahaan kompetensi, menjalankan suatu profesi, kesadaran untuk menguasai berbagai keterampilan, kemampuan menguasai dan menerapkan teknologi, merancang dan melaksanakan proses pekerjaan, dan menghasilkan produk barang dan jasa.
WHO (World Health Organization) mengelompokkan kecakapan
hidup kedalam lima kelompok, yaitu : (1) kecakapan mengenal diri (self
awareness) atau kecakapan pribadi (personal skill), (2) kecakapan sosial
(sosial skill), (3) kecakapan berpikir (thinking skill), (4) kecakapan akademik
(academic skill), dan (5) kecakapan kejuruan (vocational skill).
Slameto (2002) membagi life skill menjadi dua bagian yaitu:
kecakapan dasar dan kecakapan instrumental. Life skill yang bersifat dasar
adalah kecakapan universal dan berlaku sepanjang zaman, tidak tergantung pada
perubahan waktu dan ruang yang merupakan fondasi bagi peserta didik baik di jalur
pendidikan persekolahan maupun pendidikan non formal agar bisa mengembangkan
keterampilan yang bersifat instrumental. Life skill yang bersifat instrumental
adalah kecakapan yang bersifat relatif, kondisional, dan dapat berubah-rubah
sesuai dengan perubahan ruang, waktu, situasi, dan harus diperbaharui secara
terus-menerus sesuai dengan drap perubahan.
Kalau dikaji lagi pada dasarnya kecakapan hidup (life skill)
hanya ada empat jenis, yakni (1) kecakapan pribadi (personal skill), (2)
kecakapan sosial (sosial skill), (3) kecakapan akademik (academic skill), dan
(4) kecakapan kerja (vocational skill).
Misi dan Prinsip Pendidikan Life Skill
Life skill memiliki misi untuk meningkatkan kualitas
keterampilan, kecakapan hidup dan profesionalitas, bagi anggota masyarakat yang
membutuhkan dalam rangka meraih kesejahteraan jasmani dan rohani, dengan
menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat dan untuk meningkatkan daya saing
bangsa diera global.
Menurut Anwar (2004), prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan
kecakapan hidup (life skill) adalah sebagai berikut: a) Tidak mengubah sistem
pendidikan yang berlaku b) Tidak mengubah kurikulum yang berlaku c)
Pembelajaran menggunakan prinsip empat pilar, yaitu: belajar untuk tahu,
belajar untuk menjadi diri sendiri, belajar untuk melakukan, belajar untuk
mencapai kehidupan bersama. d) Belajar konstektual (mengaitkan dengan kehidupan
nyata) dengan menggunakan potensi lingkungan sekitar sebagai wahana pendidikan.
e) Mengarah kepada tercapainya hidup sehat dan berkualitas, memperluas wawasan
dan pengetahuan, dan memiliki akses untuk memenuhi standar kehidupan yang
layak.
Sasaran dan Tujuan Pendidikan Life Skill
Sasaran life skill yaitu anggota masyarakat usia produktif
18-45 tahun, perempuan maupun laki-laki, putus sekolah maupun belum memilki
pekerjaan, dengan kriteria : a) Memiliki kemauan untuk belajar dan bekerja b)
Memiliki komitmen mengikuti kegiatan belajar sampai dengan selesai yang
dibuktikan dengan surat pernyataan kesedihan kesanggupan belajar. c) Domisi
warga masyarakat desa yang berada pada lingkup satu kecamatan.
Secara umum tujuan pendidikan life skill yaitu untuk
memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya yaitu untuk mengembangkan
potensi manusiawi (peserta didik) untuk menghadapi peranannya dimasa yang akan
datang.
Tujuan dari orientasi life skill adalah untuk memberikan
pengalaman belajar yang berarti bagi peserta didik yang sesuai dengan apa yang
dibutuhkan di dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun tujuan pendidikan life skill secara khusus bila
dirinci adalah sebagai berikut: a) Melaksanakan program-program pendidikan dan
pelatihan yang mampu mengembangkan ketrampilan, keahlian dan kecakapan serta
nilai-nilai keprofesian untuk mendorong produktivitas sebagai tenaga kerja yang
handal atau kemandirian berusaha. b) Memberikan kesempatan kepada masyarakat
untuk mengikuti program khusus berbasis kompetensi, serta fasilitasi penempatan
kerja pada dunia usaha / industri dan / atau berusaha mandiri.
Kesimpulan
Life skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi
problema kehidupan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan
solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill
bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan
problema hidup dan kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga
masyarakat, maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa
yang menjadi tujuan hidupnya.
Mudah-mudahan pembahasan ini bisa menjadi pemantik pembaca
dalam memperdalam pembahasan tentang konsep kecakapan hidup (life skill) dari
berbagai dimensinya
Source : My Mind & https://akarsejarah.wordpress.com/2017/09/03/konsep-life-skill-menurut-para-ahli-dan-kementrian-pendidikan-nasional/


Jelas Life skill dong
ReplyDeletekarena akan lebih berguna nantinya